Jumat, 23 Oktober 2009

SEPUTAR HTAUHID ULUHIYAH DAN RUBUBIYAH

Tauhid dalam ajaran Islam berarti sebuah keyakinan akan keesaan Allah. Inilah inti dan dasar dari seluruh tata nilai dan norma Islam. Karena itu Islam dikenal sebagai agama tauhid yaitu agama yang mengesakan Tuhan. Sehingga gerakan-gerakan pemurnian Islam terkenal dengan nama gerakan muwahhidin (gerakan yang memperjuangkan tauhid). Selanjutnya, dalam perkembangan sejarah kaum muslimin, tauhid telah berkembang menjadi nama salah satu cabang ilmu Islam, yaitu ilmu Tauhid yakni ilmu yang mempelajari dan membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan keimanan terutama yang menyangkut masalah ke-Maha Esa-an Allah.
Tidak dipungkiri lagi tauhid merupakan basis seluruh keimanan, norma dan nilai. Tauhid mengandung muatan doktrin yang sentral dan asasi dalam Islam, yaitu memahaesakan tuhan yang bertolak dari kalimat “La Ilaha Illallah” bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Dalam pandangan empiris secara umum, tauhid seolah hanya sebuah konsep yang membuat orang hanya mampu berkutat pada doktrin itu semata. Kesan yang timbul adalah tauhid hanyalah untuk diyakini dan diucapkan, tidak lebih. Padahal praktek tauhid yang dicontohkan oleh Rasulullah tidaklah seperti itu. Tauhid tidak berhenti hanya sebatas doktrin, tapi harus ditunjukkan dengan sikap dalam kehidupan. Dengan itu akan lahirlah rasa kebahagiaan dan kedamaian dalam setiap dimensi kehidupan.
1.Tauhid Uluhiyah
Tauhid Uluhiyah merupakan pondasi islam yang harus ditegakkan pertama kali sebelum lainnya karena ia merupakan hak Allah yang harus dipenuhi makhluk-Nya dan merupakan dakwah para Nabi dan Rasul. Tauhid Uluhiyah juga merupakan dasar dalam tarbiyah yang harus diprioritaskan sebelum lainnya. Tauhid Uluhiyah merupakan asas dan pondasi dibangunnya seluruh amal, tanpa realisasiTauhid Uluhiyah semua ibadah dan amal makhluk tidak akan diterima bahkan ia menjadi orang kafir yang kekal di dalam neraka.

Kami mengutip salah satu ayat:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya hendaklah dia beramal shalih dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya dalam beribadah kepada-Nya.”
Ayat ini menunjukkan bahwa amalan tidak akan diterima apabila tercampuri dengan kesyirikan. Oleh sebab itulah para Rasul sangat memperhatikan perbaikan akidah sebagai prioritas pertama dakwah mereka. Inilah dakwah pertama yang diserukan oleh para Rasul kepada kaum mereka; menyembah kepada Allah saja dan meninggalkan penyembahan kepada selain-Nya.Tauhid uluhiyah merupakan suatu penegasan bahwa tuhan adalah Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Beriman bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bangi-Nya.


2. Tauhid Rububiyah
Tauhid Rububiyah mengharuskan Tauhid Uluhiyah , sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala : “Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang menciptakanmu dan menciptakan orang-orang sebelummu agar kamu menjadi orang yang bertakwa. Dialah Allah yang menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap dan menurunkan dari langit air (hujan) yang dengannya menumbuhkan tumbuh-tumbuhan sebagai anugerah rizki bagimu, maka janganlah engkau membuat bagi Allah sekutu-sekutu sedangkan engkau mengetahuinya.”
Dari ayat di atas tampak bahwa Allah ta’ala menyatakan kerububiyahannya dengan menjadikan bagi manusia bumi sebagai hamparan, langit sebagai atap dan menurunkan air hujan yang dengan air hujan itu tumbuh bermacam-macam tumbuhan sebagai rizki bagi manusia, dimana setelah manusia mengetahui bahwa hal ini semua adalah dari Allah Ta’ala maka merupakan suatu kewajiban bagi manusia untuk menyembah Allah Ta’ala semata dan meninggalkan sesembahan-sesembahan selain Allah, dan ini merupakan konsekwensi Tauhid Rububiyah yang mengharuskan adanya Tauhid Uluhiah.
Islam merupakan agama yang komperehensif, yaitu terdiri dari ketiga disiplin ilmu keislaman diantaranya Iman (Tauhid), Islam(Syari’at) dan Ihsan(Tasawuf). Ketiga disiplin ilmu tersebut merupakan simbiosis mutualisme. Apabila kita mengabaikan salah satunya maka Islam kita masih belum sempurna(belum kaffah). Namun dari salah satu ketiga disiplin ilmu tersebut ada satu disiplin ilmu yang perlu diperioritaskan, yaitu ilmu Tauhid. Mengapa? Karena ilmu Tauhid merupakan pondasi dari ilmu Syari’at dan Tasawuf.
Oleh sebab itu banyak orang-orang liberal yang mempersoalkan dan mempertanyakan “Mana lebih baik atau dimanakah yang masuk surga orang-orang islam yang hanya cukup bersyahadat saja namun kelakuan mereka amat telah bobrok, tidak sholat, suka mencuri, merampok dll, dengan orang barat yang tidak islam namun perbuatan mereka menggambarkan islam. Untuk menjawab pertanyaan barusan kami merujuk kepada sebuah sya’ir yang artinya: “tempat kembalinya orang-orang islam yaitu di surga dan tempat kembalinya orang-orang kafir yaitu di neraka”.
Dari syair tersebut jelaslah yakni orang islam yang akan masuk surga, meskipun orang islam tersebut selalu bermaksiat, dari pada orang barat yang kelakuan mereka baik namun mereka tidak beriman. Memang orang yang beriman dan sudah masuk islam minimal mengucapkan sahadatain mereka dijamin masuk surga. Namun jika mereka tergolong ahli maksiat mereka juga akan dimasukkan keneraka tapi mereka tidak kekal dineraka tergantung pada kadar dosa mereka yang perbuat. Yang pada akhirnya juga akan kembali kepada surga sebagai rumah kekal mereka. Dan untuk orang kafir selamanya mereka akan berada dineraka. Seperti Abu Lahab, dll. untuk itu dengan kita beriman, maka kita sudah resmi didalam islam, namun islam kita tidak akan sempurna(kaffah).Wallahu A’lamubissawab.



DAFTAR PUSTAKA

Terjemah Al-Qur’an Al-Jumanatul Ali. Cv Pnenerbit J-Art. Al Kahfi: 110

Terjemah Al-Qur’an Al-Jumanatul Ali. Cv Pnenerbit J-Art Al Baqarah 2 :

Muhammad Nawawi Bin Umar.Qomiut Thughyan, Al-Hidayah. Surabaya.

Tidak ada komentar: